Cara Penulisan Sitasi dkk pada Teks Kutipan dan Daftar Pustaka

penulisan sitasi dkk

Apakah Anda sekarang sedang dihadapkan mengerjakan naskah ilmiah? Pasti ada banyak pertanyaan-pertanyaan kecil bukan? Dari banyaknya pertanyaan, mungkin ada yang menanyakan terkait tentang sitasi atau daftar pustaka/referensi? 

Seringkali saat menuliskan daftar pustaka/referensi muncul kasus dimana sumber referensi yang digunakan ditulis lebih dari dua bahkan lebih dari tiga penulis. Atau masalah lain seperti permasalahan tentang penulisan yang menggunakan “dkk” dan et al digunakan ketika dalam kondisi seperti apa dan bagaimana? 

Nah, untuk menjawab rasa penasaran Anda, di artikel kali ini kita akan bahas lebih lengkap dan singkat. Semoga Bermanfaat dan baca sampai selesai, ya. 

Pentingnya Sitasi/Daftar Pustaka/Referensi 

Sebelum kita ulas cara penulisan dkk, kita ulas dulu tentang peranan atau pentingnya sitasi/daftar pustaka/referensi ini. Banyak yang tidak tahu peran dan fungsi dari daftar pustaka. Dalam karya ilmiah, penulisan sitasi sangatlah penting. Mencantumkan daftar pustaka di bagian akhir karya ilmiah sebagai bukti sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban Anda (sebagai peneliti/penulis) terhadap isi ditulis. 

Tidak sekadar itu, kehadiran sitasi referensi/daftar pustaka dapat pula dijadikan sebagai perbandingan ide penelitian, yang kemudian tertuang dalam bentuk penelitian atau karya ilmiah. Bagi pembaca, kehadiran referensi daftar pustaka dapat berperan sebagai rujukan sekaligus menunjukan bahwa karya ilmiah yang Anda  tulis didasarkan pada data-data relevan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penggunaan Sitasi 

Pertanyaan yang sering diajukan terkait sitasi kapan sih digunakan? Pada dasarnya sitasi dapat digunakan ketika Anda menggunakan kutipan, data atau mengambil informasi dari hasil karya orang lain. Banyak yang tidak tahu, ketika Anda  mengambil data atau informasi atau konsep dari karya orang lain, maka Anda  perlu melakukan memparafrase.

Parafrase ini juga penting dilakukan, fungsinya agar ketika di cek turnitin nya bisa rendah. Bisa saja Anda  mengutip atau mengambil dari sumber lain tanpa memparafrase sama sekali. Hanya saja, jangan terlalu dominan dalam karya Anda. Karena ditakutkan akan mengalami plagiarisme.

Konsep Dasar Penulisan Sitasi/Daftar Pustaka/Referensi 

Mengutip dari Metode Penulisan dan Penyajian Karya ilmiah karya Haryanto A.G dkk (1999) bahwa penulisan daftar pustaka dapat diambil dari berbagai sumber. Jadi Anda  bisa mengambil dari website, dari jurnal, buku ataupun dari surat kabar. Atau dari sumber-sumber yang terpercaya yang dapat dipertanggungjawabkan. 

1. Konsep penulisan dari Sumber Buku 

Adapun konsep penulisan daftar pustaka yang harus ada, sebagai kelengkapan data. Yaitu harus ada nama penulis, tahun dipublikasikan/terbit, judul (judul buku/jurnal/artikel/berita), dan harus ada fakta penerbitan yang meliputi kota karya tersebut diterbitkan, dan nama penerbit/nama yang mempublikasikan. Jika dibuat dalam bentuk konkrit, maka daftar pustaka/referensi/sitasi dapat dilihat sebagai contoh di bawah.

Elisa, Irukawa. 2023. Berdamai Dengan Sakit Hati : Seni Memaknai Luka Menjadi Bahagia. Yogyakarta : Anak Hebat Indonesia. 

2. Jika diambil dari artikel jurnal

Jika diambil dari website/artikel jurnal, maka format penulisannya pun juga sedikit berbeda loh. Adapun konsep format penulisannya yang meliputi nama penulis, judul artikel dan publikasi, URL, tanggal akses jika ada digital Object Identifier (DOI) perlu dicantumkan. Contohnya sebagai berikut

Ayuningtyas, Suci. 2017. Penggunaan Kosakata Bahasa Arab Oleh Aktivis Rohis Universitas Negeri Semarang: Analisis Semantic dan Sosiolinguistik dalam Jurnal of Arabic Learning and Teaching Volume 1 (hlm. 90-105). Semarang: Kantor Bahasa Provinsi Jawa Tengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

3. Konsep penulisan dari dari majalah 

Tidak menutup kemungkinan jika sitasi atau referensi diambil dari majalah ataupun tabloid. Adapun konsep penulisannya, harus ada nama pengarang, tahun terbit, judul artikel, judul majalah, bulan terbit (jika ada) tahun terbit, tempat terbit. Penasaran untuk penulisannya, sebagai berikut. 

Fakhrah, Fany. 2006. Puisi: Sekuntum Mawar Merah dalam Horison Majalah Sastra. Jakarta: PT Metro Pos

Elisa, Irukawa. 2019. Sejarah Museum Pleret Bantul. Yogyakarta : Tabloid BIAS. 

4. Konsep penulisan dari surat kabar

Akan berbeda lagi jika sumber referensinya diambil dari surat kabar. Maka unsur urutan yang harus ditulis adalah nama pengarang, tahun terbit, judul artikel, judul surat kabar, tanggal terbit dan tempat terbit. Jika ditulis dalam bentuk sitasi/surat kabar maka akan ditulis sebagai berikut.

Rina, Hapsari. 2021. Peran Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak. Dalam Kompas, 1 September 2021. Jakarta. 

5. Konsep penulisan dari dari website

Saat mengerjakan naskah ilmiah, seringkali kita mengambil referensi dari website bukan? Nah, konsep penulisan daftar pustaka yang diambil di internet juga memiliki aturan penulisan yang berbeda. Adapun unsur runtutan penulisan sitasi, yaitu nama, tahun penayang, judul, URl dan waktu pengambilan. berikut adalah contoh penulisannya. 

Damarjati, Danu. 2020. “Perbandingan Mematikan: Virus Corona, MERS, SARS, dan Ebola”, http://news.detik.com/berita/d-298973/perbandingan-mematikan-virus-corona-mers-sars-dan-ebola, diakses pada 28 Desember 2020, pukul 10.20

Bagaimana Cara Penulisan Sitasi Yang Penulisnya Lebih Dari Dua?

Seringkali Anda  juga menemukan sumber referensi yang didalamnya ditulis oleh beberapa penulis. Bahkan ditulis lebih dari penulis. Biasanya sebagian penulis pemula karya ilmiah merasa kebingungan bagaimana cara menuliskan ke daftar pustaka/sitasi atau referensi. 

Jadi jika Anda  menemukan penulisnya lebih satu atau berjumlah dua penulis. Maka Anda bisa menuliskannya sebagai berikut. 

Wegener, D. T., & Petty, R. E. (1994). Mood management across affective states: The hedonic contingency hypothesis. Journal of Personality and Social Psychology, 66, 1034-1048.

Dari contoh di atas, Anda  hanya menuliskan kedua penulisnya dengan menyertakan kata hubung “&”. Tentu ini akan berbeda cerita jika  penulisnya ada lebih dari tiga. lantas, bagaimana cara penulisannya? Anda  bisa lihat contoh berikut. 

Kernis, M. H., Cornell, D. P., Sun, C. R., Berry, A., Harlow, T., & Bach, J. S. (1993). There’s more to self-esteem than whether it is high or low: The importance of stability of self esteem. Journal of Personality and Social Psychology, 65, 1190-1204.

Perbedaan Penulisan “dkk” dan “et al”

Barangkali Anda  juga bertanya-tanya tentang penulisan daftar pustaka/sitasi/referensi, ketika penulisnya ditulis lebih dari dua penulis dari satu sumber, ada yang menulisnya menggunakan “dkk” (berarti: dan kawan-kawan) dan ada pula yang menggunakan “et al” (berarti: et alia atau et alii yang berarti ‘dan lainnya’). lantas, apa sih perbedaan atau kapan “dkk” digunakan dan kapan “et al” digunakan? 

Jadi, ketika penulis referensi dari satu sumber lebih dari dua orang, dimana penulisnya atau sumbernya dari bahasa asing atau dari luar, maka penulisannya bisa menggunakan “et al”. Sementara jika penulisnya dari atau berbahasa indonesia, maka bisa menggunakan “dkk”.  Ada yang menarik nih, penulisan “et al” dan “dkk” ini digunakan ketika

  1. Ketika ditulis di teks kutipan, jika penulisnya lebih dari 3-4 penulis maka diikuti dengan “et al” atau “dkk”. Berikut contohnya
    • Albert et al (2009) menyatakan bahwa pada umumnya ………………
    • Elisa, dkk (2009) mengatakan bahwa ………………………………
    • Penelitian terbaru menunjukkan bahwa…… (Albert et al, 2009)
  2. Jika penulis 3-4 dan akan dituliskan di daftar pustaka, maka semua penulis harus dituliskan di daftar pustaka. Contoh sebegai berikut.

Kernis, M. H., Cornell, D. P., Sun, C. R., Berry, A., Harlow, T., & Bach, J. S. (1993). There’s more to self-esteem than whether it is high or low: The importance of stability of self esteem. Journal of Personality and Social Psychology, 65, 1190-1204

  1. Baru jika penulisnya lebih dari 4 orang, baru di daftar pustaka dituliskan “et al”atau “dkk”

Fajar, I. dkk., 2009. Statistika untuk praktisi kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Mccrory, P. et al., 2012. Efficacy of acupuncture for chronic knee pain : protocol for a randomised controlled trial using a Zelen design. Bmc Complementary And Alternative Medicine. Available at: http://www.biomedcentral.com/1472-6882/12/161/abstract.

Catatan: Untuk kasus ini, saya sarankan dikembalikan dengan format/style daftar pustaka yang Anda gunakan.

  1. Penggunaan “et al” digunakan untuk referensi dalam bahasa asing, sementara kata “dkk” digunakan ketika referensi dalam bahasa indonesia.

Itulah beberapa fakta tentang penulisan sitasi/daftar pustaka/referensi yang menggunakan penulisan dkk dan et al. Jika masih ada yang Anda bingungkan, tulis di kolom komentar, ya. Semoga sedikit ulasan ini bermanfaat. (Irukawa Elisa)

Anda menggunakan referensi dari beragam sumber? Ketahui penulisan kutipannya dengan benar:

Tinggalkan Balasan